Tradisi Munggahan, Budaya Jelang Ramadan di Jawa Barat

tradisi-munggahan

Pertama kali mengetahui tentang tradisi Munggahan adalah saat saya bekerja di Cimahi, Jawa Barat. Menjelang Ramadan, rekan-rekan kantor yang notabene urang Sunda asli mengajak saya untuk ikutan acara tersebut. Saya jadi paham, budaya ini ternyata sangat melekat bagi masyarakat Jawa Barat, terutama Bandung dan sekitarnya.

Setelah menikah dengan Aa Bandung, jadilah setiap tahunnya sebelum bulan puasa tiba, saya selalu hadir dalam acara Munggahan yang diadakan oleh keluarga suami, biasanya dipelopori oleh mertua saya. Tahun ini pun, tradisi tersebut tetap diselenggarakan, meskipun bapak mertua saya sudah tiada. Justru, tahun ini lebih ramai dengan kehadiran keluarga-keluarga yang tinggal di Jakarta.

Baca juga: Mengenal Tradisi Piring Terbang di Pernikahan Adat Solo

Seingat saya, tradisi yang biasa keluarga saya lakukan sebelum berpuasa adalah nyekar (ziarah kubur) ke makam kakek dan nenek saya. Setelah bapak saya meninggal, ya keluarga saya nyekarnya ke makam bapak. Atau di Jogja saya juga terbiasa mendengar tentang tradisi Nyadran, yang inti kegiatannya ya sama juga ziarah kubur.

Nah, bagaimana dengan tradisi Munggahan ini? Kira-kira, serupa tapi tak sama kah?

Mengenal Tradisi Munggahan di Jawa Barat

Menikah dengan orang Sunda, membuat saya jadi ikut bergabung sebagai part of Sundanese. Saya pun mencoba menggali makna dibalik tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan ini. Munggahan berasal dari kata munggah yang artinya naik.

Munggahan di sini diartikan sebagai naik ke bulan yang suci (Ramadan). Tradisi ini dijalankan oleh masyarakat muslim menjelang bulan Ramadan. Adapun makna dibalik tradisi munggahan adalah mensyukuri berkat dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT dan upaya untuk membersihkan diri dari hal-hal yang dianggap tidak baik selama setahun ke belakang.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan saat Munggahan sebenarnya memiliki makna penting yakni bertujuan untuk mempersiapkan diri dalam menyambut bulan suci dan terhindar dari perbuatan tercela selama menjalankan ibadah puasa nanti.

Ritual dalam Tradisi Munggahan

Saat masih bekerja kantoran, yang saya tau Munggahan itu isinya ya makan-makan, dan bersilaturahmi dengan kerabat. Bahkan salah seorang teman saya mengatakan, “Puas-puasin dulu makan sebelum bulan puasa,” Hah? Emang ada tradisi kayak gitu? Pikir saya ketika itu. Dipikir-pikir lagi, teman saya kayaknya bercanda deh. Wkwk.

Setelah tinggal di Pondok Indah Mertua dan menjalankan tradisi ini dari tahun ke tahun lah (kecuali saat Covid-19), saya melihat lebih banyak lagi kegiatan yang dilakukan saat acara Munggahan. Beberapa di antaranya adalah:

Berkumpul Bersama Keluarga

Momen Munggahan ini biasanya dijadikan sebagai ajang silaturahmi. Umumnya, acara ini tidak direncanakan hanya satu malam saya, melainkan jauh-jauh hari sebelumnya. Seperti keluarga suami, yang biasanya sudah membicarakan rencana Munggahan dari sebulan sebelumnya.

Sehingga, masing-masing anggota keluarga bisa mengalokasikan waktunya di hari yang sudah ditetapkan untuk datang ke acara Munggahan. Seperti saya misalnya, yang tidak berdomisili di Bandung, saya dan suami bisa meluangkan waktu dan merencanakan budget perjalanan untuk ke Bandung dengan baik.

Baca juga: Tips Menjaga Rutinitas Anak Selama Traveling

Bersama kakak-kakak ipar dan keponakan-keponakan

Berhubung keluarga suami saya itu keluarga besar (7 bersaudara), momen ini sangat seru buat saya. Anak saya bisa bermain bersama sepupu-sepupunya, saya bisa ikut menikmati momen kumpul keluarga bersama kakak-kakak ipar dan keluarga dari pihak suami. Ningkatin bonding, frens!

Berdo’a

Tahun ini adalah tahun pertama keluarga suami saya menyelenggarakan Munggahan tanpa kehadiran bapak mertua. Sebelum-sebelumnya, setiap ada acara di rumah, mertua saya pasti membukanya dengan kegiatan berdo’a bersama. Salah satu ritual yang dilakukan saat Munggahan pun demikian, pasti ada waktu untuk berdo’a bersama-sama.

Berdoa-bersama-keluarga

Apa saja yang didoakan? Ya macam-macam lah ya, intinya meminta diberikan kebaikan dan dihindarkan dari keburukan.

Makan-makan

Ini dia yang paling ditunggu-tunggu, makan-makan bersama! Untuk acara Munggahan tahun ini, keluarga suami saya sampai pesan katering prasmanan, lho. Sebab banyak keluarga dari luar kota yang juga datang. Kayaknya sih, nggak ada menu khusus Munggahan gitu ya sepengalaman saya.

Saya mencari-cari literatur pun nggak ada yang menjelaskan tentang menu apa saja yang biasa tersaji saat acara ini. Ketika bekerja dan ikut berpartisipasi dalam acara Munggahan, saya dan teman-teman kantor biasanya makan-makan di tempat makan, di mall atau restoran, terkadang di rumah teman kerja saya yang bersedia.

Kalau kalian, biasanya menu apa yang disajikan saat Munggahan, frens?

Bermaaf-maafan

Setiap sebelum menjalankan ibadah suci di bulan Ramadan, kita terbiasa untuk bermaaf-maafan satu sama lain. Maaf-maafan ini juga masuk ke dalam salah satu kegiatan yang dilakukan saat acara Munggahan.

Tindakan bermaaf-maafan ini mencerminkan nilai-nilai seperti rasa tenggang rasa, kebersamaan, dan sikap lapang dada. Tujuannya ya agar saat menjalankan ibadah puasa, sudah tidak ada lagi rasa marah, tidak suka atau dendam dengan orang lain. Sehingga, kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih.

Ziarah Kubur

Nah, salah satu alasan kenapa keluarga suami saya yang dari Jakarta beramai-ramai datang ke Bandung untuk ikut acara Munggahan ini adalah karena ingin berziarah bersama ke makam bapak mertua. Ternyata, Munggahan ini jauh dari sekadar makan-makan dan happy-happy saja, tapi ada dimensi spiritual juga yang terkandung di dalamnya.

Di Jogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur, kami mengenal istilah ziarah kubur ini dengan nyekar. Kami meluangkan waktu untuk mengunjungi makam sanak saudara, dan keluarga yang sudah lebih dahulu dipanggil oleh Allah SWT.

ziarah-kubur-munggahan
Ziarah kubur sebelum Ramadan 2024

Selain 5 kegiatan di atas, ada pula masyarakat Sunda yang mengamalkan sedekah Munggah, jalan-jalan ke tempat wisata, hingga mandi-mandi di sungai untuk membersihkan diri. Kayaknya ritual ini tergantung dari pengalaman empiris masing-masing keluarga juga, sih.

Baca juga: Lembang Park Zoo, Wisata Ramah Keluarga

Apapun kegiatannya, yang jelas tradisi Munggahan ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT dan bentuk kegembiraan dalam menyambut bulan suci dan penuh hikmah, Ramadan.

Di tempat kalian, tradisi seperti ini disebut apa? Ikut cerita yuk di kolom komentar!

16 Comments

  1. Iyaa, keluarga ayahku Sunda jadinya kami biasa cucurak atau makan bersama sekeluarga sebelum puasa, kalau Jawa keluarg suami biasanya nyekar ke makam

    • Pas banget memang, aku selaku orang sunda yang besar di Kota Bogor memang rutin melakukan tradisi munggahan ini. Pas 5 tahun kebelakang memang enggak sekomplit itu ikutan rangkaian kegiatan munggahan, karena sempat tinggal di Jakarta jadi mengikuti tradisi ibu mertua..
      Munggahan itu memang kaya akan makna, terutama mengumpulkan keluarga, silaturahmi dan ziarah bareng-bareng, ningkatin kedekatan dan keakraban. Jadi secara lahir batin kita siap menghadapi bulan ramadhan, yang hadir setaun sekali.

  2. eryka

    ternyata tiap daerah ada tradisinya ya sebelum ramadhan, unik juga munggah alias naik menuju ke bulan yang suci membersihkan diri dan berdoa semoga selama ramdhan ibadahnya lancar 🙂
    karena aku dr solo otomatis setiap menjelang ramadhan ada tradisi nyekar alias nyadran ke makam leluhur dan juga ada istilah padusan kak kalo disini…yang artinya mandi besar yang biasanya juga diadakan di tempat wisata2 air,,dijamin pasti bakal ruame bangett disana hehe…

  3. Walau gak pake istilah khusus Munggahan, tapi ngeliat rangkaian kegiatannya, bisa dibilang di Palembang sama juga, terutama ziarah kuburnya. Cuma untuk maaf-maafan itu mungkin di keluargaku aja yang lumayan lempeng dan mungkin gak biasa hehe, biasanya maafannya pas lebaran aja lol. Kalau makan-makannya ya sih tetep hahaha

    Semoga ibadah kita semua di Ramadan dilancarkan dan dipermudah ya. Amiin amiin

  4. Wah… Seru banget nih bisa berkumpul bersama di acara munggahan.. Dan semoga puasa kita lancar sehingga akhir ramadhan

  5. Kalau di sini ada semacam munggahan, ya hampir sama sih, nyekar ke makam leluhur. Tapi masak2 lalu sebagian dikasih ke tetangga gituu.

    Kalau munggahan seru ya kumpul2 ramee gitu ama keluarga.

  6. Ajang munggahan jadi ajang mengakrabkan diri dengan keluarga besar juga ya, bisa juga sekalian jadi ajang maaf2an sebelum Ramadhan … seru sekali ya tradisinya.

  7. Di keluarga Batak acara begini juga ada mba. Masalahnya udah banyak ga dilanjutin Ama generasi muda nya. Karena repot juga. Aku sendiri dulu sering hadir pas sepupu yg di Tangerang bikin acara sebelum puasa, tapi jujur aku lupa sih kalo ada nama khusus atau ga. Yg pasti kami biasanya memang silaturrahmi sebelum puasa.

    Tapi skr, Krn sepupu udah semakin tua juga, beda usianya dengan ku jauh soalnya, jadi udah ga dilakuin. Yang muda2 jangan harap 😂. Aku sendiri mikir juga kalo disuruh JD host. Dahlaah ga usah dipaksain. Yg pasti kami selalu ziarah kubur sebelum puasa

  8. Bagus juga ya tradisi Munggahan ini, bisa kumpul-kumpul sambil makan-makan dan berdoa bersama bareng keluarga. Tak lupa tuk saling maaf-maafan yang anjurannya memang sebelum masuk bulan Ramadan, kan? Setelah itu dilanjutkan dengan ziarah kubur. Nah , kalau keluarga saya tradisi ziarah kuburnya itu biasa baru dilakukan menjelang lebaran

  9. Di tempat Saya juga namanya Munggahan juga, karena Saya dari Tasikmalaya wkwkkw. Seneng pisan sih ngumpul bareng sebelum Ramadan. Makan makan, ga hanya sama keluarga, sama temen-temen jugak. Jadi versi Munggahan nya banyak

  10. ternyata bahasa sunda dan jawa ada mirip miripnya ya, aku sebagai orang jawa tadi mikir, munggahan kalau dijawa, munggah artinya naik,ternyata sama
    sebelum ramadan juga ada tradisi begini, tapi itu nggak umum kalau di tempatku.
    Namanya juga bukan munggahan, malah kayaknya ga ada istilahnya
    hehehe aku biasanya kalau mau ramadhan dipuas-puasin njajan siang-siang, apalagi demen minum es siang-siang

  11. Kemarin diskusi di grup tentang munggahan.
    Dan ternyata sebenernya beberapa daerah di Jawa lainnya pun juga punya tradisi ini, kaya Jawa Timur dengan megengan.
    Intinya, kumpul bareng dan makan. Hehehe~

    Barakallahu fiikum.
    Semoga semua keluarga sehat dan bisa sama-sama menjalani bulan Ramadan dengan khusyu hingga akhir.

    Happy Ramadan 1444 H.

  12. Samaan mba di tempat saya juga masih ada budaya seperti ini dan seru banget dengan budaya seperti ini malah jadi mengajak kelaurga bersilaturahmi karena berkumpul, berziarah, dan lainnya. Menyambut suka cita bulan Ramadhan dengan budaya seperti ini sangat bagus jadi wajib banget dilestarikan, asal acara makan-makannya tidak berlebihan dan tidak memberatkan, biasanya di kami akan berkumpul di rumah mana dan bawa makanan masing-masing

  13. Berkumpul dan menyempatkan melakukan hal2 yang baik memang tradisi yang baik menurut saya, senang mengetahui tradisi ini. Selamat menjalankan ibadah puasa ya, semoga lancar dan penuh berkah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *