Tinggal di Apartemen: Kelebihan dan Kekurangan yang Harus Diketahui

kelebihan-kekurangan-tinggal-di-apartemen

Tahun 2023 ini menjadi a whole new chapter untuk keluarga kecil saya. Suami saya kembali pindah kerja sehingga nantinya saya harus kembali pindah untuk ke sekian kalinya. Sebelum saya ikut suami ke kota perantauan selanjutnya, saya dan bocil akan tetap stay di Sukabumi sampai habis masa tahun ajaran 2022/2023 ini.

Suami saya bekerja di tempat barunya ini tepat di awal tahun 2023. Berhubung saat itu anak saya masih libur sekolah, akhirnya suami mengajak kami untuk menghabiskan sisa liburan di kota tempat suami saya bekerja.

Selain liburan, saya dan suami juga survey ke beberapa tempat yang kira-kira cocok untuk dijadikan tempat tinggal saat saya dan anak saya sudah ikut pindah ke sana.

Baca cerita: Otewe Pindah Lagi

Singkat cerita, saya dan keluarga menghabiskan tahun baru di kota Tangerang Selatan dan mencicipi rasanya tinggal di apartemen selama satu minggu. Saya tuliskan pegalaman ini karena menurut saya ada beberapa poin menarik tentang tinggal di apartemen ini.

Seminggu di Apartemen Kawasan Serpong, Tangerang Selatan

Otewe pindah ke Tangerang Selatan memiliki satu kelebihan yang tidak saya dapatkan ketika merantau ke Sukabumi. Di sana, saya memiliki kerabat yang cukup akrab dan beberapa teman dekat yang menetap di kota tersebut.

Saat tau akan pindah ke sana, saya merasa lebih tenang karena nggak merasa sendirian banget seperti saat saya pindah ke Sukabumi 3 tahun yang lalu.

Baca juga: 8 Kota Tinggal yang Paling Berkesan

Ketika saya bercerita pada kerabat saya kalau akan stay selama seminggu di Tangerang Selatan, dengan tangan terbuka beliau menawarkan saya sekeluarga untuk tinggal di apartemen miliknya di kawasan Serpong.

lobi-apartemen-kelebihan-kekurangan-tinggal-di-apartemen
Lobi Apartemen

Beliau sendiri tidak tinggal di apartemen itu, biasanya memang untuk disewakan. Kebetulan, di tanggal saya akan datang ke sana, apartemen itu sedang kosong jadi bisa kami gunakan secara cuma-cuma. Alhamdulillah.

Satu minggu memang bukan waktu yang lama untuk merasakan bagaimana kehidupan penghuni apartemen yang sesungguhnya. Namun, selama seminggu itu pula ada banyak cerita yang ingin saya bagikan tentang kelebihan dan kekurangan tinggal di apartemen.

Kelebihan Tinggal di Apartemen

Ini bukan pertama kalinya saya dan keluarga menginap di sana. Beberapa bulan sebelumnya, saat suami saya masih dalam proses interview kerja di perusahaannya yang sekarang, kami juga meminjam apartemen tersebut untuk menginap.

Anak saya excited sekali ketika mengetahui akan kembali menginap di sana, ia menyebutnya sebagai Hotel B*D. Apa saja poin plus yang saya rasakan selama tinggal di apartemen tersebut?

1. Lokasinya yang Strategis

Apartemen yang kami tinggali berada di kawasan real estate ternama di Serpong, Tangerang Selatan. Menurut saya tempatnya sangat strategis karena dekat ke berbagai fasilitas seperti pusat perbelanjaan, mall, pusat kulineran, perkantoran, hingga stasiun dan gerbang tol.

Jarak dari apartemen ke kantor suami pun tidak terlalu jauh sehingga tidak menghabiskan waktu di jalan untuk pulang-pergi. Saya sendiri mudah saya untuk pergi-pergi ke mall atau tempat kulineran karena terjangkau menggunakan ojol dengan biaya yang tidak mahal.

2. Fasilitas Lengkap

Hal yang membuat anak saya excited ketika kembali menginap di apartemen ini adalah karena tersedia playground dan kolam renang yag bisa diakses sepuasnya oleh penghuni apartemen.

Fasilitas yang lengkap memang menjadi salah satu poin plus yang saya rasakan ketika tinggal di apartemen. Di sana sudah ada fasilitas olahraga yakni kolam renang dan gym yang terbuka untuk penghuni apartemen.

Fasilitas Umum di Apartemen

Baca tentang: 4 Tipe Traveler Setelah Berkeluarga

Ada juga hiburan anak yakni playground. Meskipun tidak besar dan tidak seperti playground di sekolah atau mall, cukuplah sebagai hiburan dan tempat anak-anak berlari-larian. Di samping itu, tersedia juga fasilitas laundry, salon, mini market dan kafetaria yang berada di lantai dasar apartemen.

Buat saya fasilitas itu semua benar-benar mempermudah hidup banget selama tinggal di sana.

3. Sistem Keamanan Baik

Sistem keamanan yang diterapkan di apartemen juga cukup baik dan ketat. Mulai dari parking area yang menggunakan member card atau karcis, security yang berjaga selama 24 jam, dan kartu akses yang hanya bisa digunakan untuk penghuni apartemen di lantai tempat mereka tinggal.

Ada satu kejadian yang cukup memalukan saat kami baru tiba di apartemen tersebut. Saya dan suami yang sibuk menggotong-gotong banyak barang dengan percaya diri masuk ke lift lalu menggunakan kartu akses untuk naik ke lantai 5.

Tapi, lift tidak mau bergerak dan tombol angka 5 juga tidak mau ditekan. Seseorang yang juga naik ke dalam lift bertanya, apa benar saya tinggal di tower tersebut? Karena sepertinya kartu akses saya tidak bisa digunakan.

Ternyata kami memang salah, tower apartemen milik saudara saya ada di bagian Selatan sedangkan lift yang kami naiki adalah untuk penghuni apartemen bagian Utara. Hehe. Terpaksa kami kembali gotong-gotong koper dan barang bawaan untuk nyebrang ke tower bagian Selatan.

Apartemen tempat saya tinggal kemarin juga masih menerapkan protokol kesehatan dengan cukup ketat. Pengunjung yang ketahuan tidak menggunakan masker akan ditegur oleh security dan disuruh untuk menggunakan masker sebelum naik ke apartemen.

4. Lingkungan Tempat Tinggal Rapi dan Bersih

Hal yang juga saya suka saat tinggal di apartemen adalah lingkungan tempat tinggalnya yang rapi dan bersih. Seperti kebanyakan apartemen, di apartemen tempat saya tinggal beberapa waktu lalu terdapat jasa kebersihan yang cukup aktif sehingga lingkungan apartemen sangat terpelihara.

plus-minus-tinggal-di-apartemen
Taman dan akses keluar masuk apartemen

Fasilitas umum seperti kolam renang, ruang ganti, gym hingga liftnya pun bersih. Dengan kebersihan yang terpelihara seperti ini, cukup membuat saya sebagai penghuni sementara nyaman tinggal di sana.

Kekurangan Tinggal di Apartemen

Selain kelebihan-kelebihan yang saya sebutkan di atas, tinggal di apartemen juga memiliki beberapa kekurangan seperti berikut ini:

1. Ruang Gerak Terbatas

Apartemen yang saya tempati kemarin bertipe studio. Begitu masuk, langsung tampak satu ruangan yang digunakan sebagai kamar, satu kamar mandi dan satu area mini kitchen di depan kamar mandi.

Ini membuat ruang gerak kami sangat terbatas. Terutama untuk anak saya yang masih balita dan sangat aktif, cepat sekai ia bosan mengeksplor ruangan tersebut. Di belakangnya ada balkon kecil yang hanya cukup untuk meletakkan gantungan handuk.

Saya was-was banget ketika anak saya ikut-ikutan ingin menjemur pakaian di sana. Apartemen kami di lantai 5 dan di pemandangan dari balkon adalah kebun luas dengan semak-semak yang tak berpenghuni. Takut banget kalau anak saya main-main di sekitar pintu balkon tersebut.

2. Kurangnya Sosialisasi Antar Penghuni

Selama saya tinggal di apartemen, saya berkenalan dengan tetangga yang tinggal di tower dan lantai yang sama dengan tempat saya tinggal. Ia adalah seorang ibu rumah tangga dengan satu anak yang usianya berdekatan dengan usia anak saya.

Saat tau saya tinggal di sana, ia pikir saya akan menjadi penghuni tetap apartemen itu dan kami akan menjadi tetangga dalam jangka waktu lama. Ibu itu tampak sangat senang karena selama lebih dari dua tahun tinggal di sana, ia nggak punya teman ngobrol antar penghuni apartemen.

Sepertinya, apartemen tersebut memang lebih banyak yang disewakan dibandingkan dijadikan sebagai tempat tinggal utama. Kalaupun sebagai tempat tinggal utama, penghuninya sangat sibuk dan jarang berdiam diri di sana.

Sebagai sesama ibu rumah tangga, saya paham betul bagaimana rasanya. Pasti sepi banget hanya tinggal berdua dengan anak, dan nggak punya teman untuk berinteraksi di sekitar rumah.

3. Biaya Parkir yang Tinggi

Berhubung kerabat saya bukan penghuni tetap apartemen ini, beliau nggak membuat member card untuk parkir di sana. Saya pun harus mengambil karcis setiap kali masuk apartemen dan membayar parkir setiap kali keluar apartemen.

Biaya parkir yang dikenakan per jam, sama halnya seperti saat parkir di mall. Sejamnya, mobil dikenakan biaya parkir sebesar Rp6.000,-. Suami saya mengendarai mobil untuk pulang pergi ke kantor, berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 7 malam. Otomatis mobil kami selalu menginap di apartmen.

Setiap pagi, suami saya harus membayar parkir sebesar kurang lebih Rp70.000,- hingga Rp76.000,-. Kebayang kan, 8 hari saya tinggal di sana menghabiskan lebih dari Rp500.000,- hanya untuk biaya parkir :’)

Tetap Pilih Tinggal di Rumah

Setelah merasakan tinggal di apartemen selama kurang lebih seminggu lamanya dan merasakan berbagai kenyamanan dan juga ketidaknyamanannya, jika diberi opsi saya akan memilih untuk tinggal di rumah.

Rasanya apartemen kurang cocok untuk saya, terutama anak saya, yang menginginkan lebih banyak ruang gerak dan privasi yang tinggi. Mungkin kalau apartemennya tipe penthouse cocok kali ya. Wkwk!

Di samping itu, untuk keluarga yang memiliki anak kecil, rumah akan lebih cocok bagi anak-anak yang gemar dengan kegiatan outdoor. Minimal bisa main-main di garasi rumah atau sekitaran kompleks. Di apartemen, mesipun ada fasilitas umum seperti taman dan playground, areanya tetap terbatas dan tidak sebebas di lingkungan rumah.

Teman-teman ada yang punya pengalaman serupa? Menurut kalian, lebih nyaman tinggal di apartemen atau rumah, nih?

20 Comments

  1. Kalau lingkungan bagus, tetangga baik gak kepo dan jahat, aku juga milih tinggal di rumah tapak. Gak hanya biaya parkir, kadang biaya ini itu di apartemen itu banyak. Cuma, bagi yang butuh ketenangan, privasi, apartemen kayaknya seru. Dan pengen juga sih nyobain tinggal dalam waktu lebih lama (di atas 3 bulan), biar bisa bandingin langsung betah di apartemen atau malah maunya di rumah tapak aja 🙂

    • Apartemen sebenernya kayak kosan aja sih. Cuma kalo kosan kan masih ikrib ya sama kanan kiri kamar, kalo ini nggak tau blass siapa penghuni room sebelahnya. Haha..

  2. Avi

    Belum pernah tinggal di apartemen sih Kak tapi ngebayanginnya kok seru, asal gak punya anak kecil ya hehehe. Kalau anak kecil kan suka eksplor jadi cocoknya tinggal di rumah tapak, bukan apartemen.

    Tapi emang fasilitas di apartemen itu menggofa apalagi yg disewain sekalian ama furnitur, peralatan dapur lengkap, dll. Tinggal bawa koper isi baju aja hehehehe.

    • Betul mba, nyaman sih tinggal di apartemen kayaknya nggak banyak drama. Kalau ada dapurnya enak bisa masak-masak sekalian. Cuma yang rempong kalau mau beli galon, nyuci baju ama bolak-balik naik turun kala ada perlu. Semua ada plus minusnya sih, ya.

  3. Saya blm pernah merasakan tinggal di apartemen sih, tapi berdasarkan pengalaman yg mba ceritakan, sepertinya saya lebih memilih tinggal di rumah tapak deh. Kecuali kalau hanya sementara, tinggal di apartemen asyik juga sepertinya ya..

    • Iya mba. rumah tapak lebih leluasa menurut saya juga. Nggak was-was banget ketika sudah punya anak, soalnya biasanya apartemen kan sampe yang berlantai-lantai gitu ya.

  4. Tidak terbayangkan untuk saya apabila harus tinggal di apartemen, apalagi dengan kondisi yang lantai 5, tentu akan mager sekali apabila harus bolak balik naik turun nyari makan, belum lagi biaya parkirnya yang mahal banget, bila 8 hari aja sampai habis 500rb, daripada begitu lebih baik milih ambil rumah KPR sekalian ya, nambah sejuta udah bisa punya rumah pribadi.

    • Betul, mas. Rempong banget bolak-baliknya. Kalau suami pulang kerja, harus jemput ke bawah dulu karena aksesnya kan cuma satu. Terus repot lagi kalau beli galon. Nggak bisa diantar sampai kamar, kecuali beli lebih dari 2 galon. Wkwk..

  5. Tidak terbayangkan untuk saya apabila harus tinggal di apartemen, apalagi dengan kondisi yang lantai 5, tentu akan mager sekali apabila harus bolak balik naik turun nyari makan, belum lagi biaya parkirnya yang mahal banget, bila 8 hari aja sampai habis 500rb, daripada begitu lebih baik milih ambil rumah KPR sekalian ya, nambah sejuta udah bisa punya rumah pribadi. Ya begitulah adanya ya tinggal di apartmen

  6. Ghina

    Bener sih aku mau stgh tahun gatau tetangga kanan kiriku dan fee servicenya mehong bgt. Huhu. klo pindah2 trs aku sukany cari yg full furnish jg biar g repot beli2 mba

    • Wah, mbak Ghina tinggal di apartemen ya? Dulu saya suka ikutan nginep sama Bapak di apartemennya di Jakarta, tapi kan nggak mikir biaya perawatan endebre-endebre, mikirnya enak aja di apartemen. Setelah berkeluarga dan ngaur uang sendiri, hahaha pucing uga ama biayanya ya. Padahal kemarin istilahnya aku numpang doang, nggak bayar full banget gitu.

  7. buat orang yang suka bersosialisasi, tinggal di apartment sepertinya bukan hal yang menarik yaa karena akan merasagak bebas bergerak, tapi buat orang introvert, tinggal di apartment akan terasa menyenangkan

  8. Wahh aku merasakan banget kekurangan yang nomor 2, yaitu kurangnya sosialisasi antar penghuni. Rasanya yang dekat terasa jauh dan yang jauh terasa sangat dekat sekali. Se-introvertnya aku kalau ada orang didekat rumah dan tidak mengobrol rasanya ada rasa yang gak enakan banget, pengen kenalan tapi agak canggung juga kalau mau mengetukkan pintu mereka..

    • Hihi iya. Paling say hi kalau ketemu orang di lift aja atau taman bermain. Tapi nggak yang terus jadi akrab gitu, karena sibuk masing-masing.

  9. Ada sih cita-cita tinggal di apartemen, tapi nampaknya kalau aku lebih condong ke rumah tapak. Apartemen sebagai investasi aja pengennya hahhaha

  10. Ada yang memilih tinggal di apartemen karena sudah sepuh, sehingga dengan hanya membayar biaya bulanan, para sesepuh ini sudah mendapatkan banyak fasilitas. Ini kata temen Ibu yang seneng banget karena tinggal di apartemen dan saat itu bahkan merayakan pernikahan anaknya di apartemen. Tampak keren karena pelayanannya, fasilitasnya persis hotel.

    Indahnya tinggal di apartemen juga banyak minusnya ya..
    Tapi melihat kehidupan perkotaan zaman sekarang, mau ketemu temen aja kudu kopdar di kape dulu yaak.. Gak kaya tinggal di perumahan yang tiap belanja aja uda noong sendiri kepalanya emak-emak dasteran.
    Hahhaa.. kembali lagi ke kenyamanan masing-masing ya..

    • Bener mbaleenn. Tinggal di apartemen kayak di hotel, tapi ya apa-apa mandiri aja sih. Nggak ada breakfast gratis dan room service kayak di hotel gitu. Emang memilih hunian itu cocoklogi sih ya. Nyamannya di mana dan gimana itu pasti beda-beda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *